Rabu, 14 Maret 2012

Pendekatan Penerapan Apresaiasi Sastra Sosio-psikologis Dalam Cerpen Warung "Penajem" Karya Ahmat Tohari


BAB I
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Membaca cerpen Warung Penajem Ahmad Tohari, kita dihadapkan pada realitas sosial keseharian masyarakat tradisional  yang masih mempercayai mistik. Kekuatan dukun atau orang pintar telah menjadi kekuatan tambahan (setiar) untuk menjalani usaha atau meraih kesuksesan. Cerpen ini mendeskripsikan secara apik suasana sebuah kampung, serta bagaimana penduduknya menjalani kehidupan.
Layaknya orang kampung biasa, cita-cita mereka sederhana. Buka warung, membangun rumah tembok lalu membeli motor bebek. “Mungkin Jum berpendapat, hidup baginya tidak bisa berarti lain kecuali membuka warung. Dengan warung itu Jum terbukti mampu mengembangkan ekonomi keluarga” Jum dan Kartawi adalah lakon utama Dalam cerpen “Warung Penajem”.
Keberhasilan cerpen ini menggambarkan realitas sosial masyarakat kecil  di perkampungan  yang kadang irasional dalam menjalani kehidupan sosial ekonomi, sangat terkait dengan kelokalan cerita ini. Hal ini misalnya terlihat dengan istilah “penajem” yang sangat jawa. Irasional dalam meraih keberhasilan ekonomi adalah realitas sosial yang   terlihaaat  jelas dalam Warung Penajem. Lihat alasan yang diberikan Jum pada Kartawi; “Setiar kang, supaya warung kita tetap laris. Kamu tahu kang, sekarang sudah banyak saingan. Apabila kita kurang setiar kang, bisa-bisa warung kita kalah bersaing”.
Di sini kita bisa melihat dengan gablang bahwa Jum bisa melihat bahwa untuk meraih keberhasilan ekonomi dan memajukan usahanya, ia masih perlu untuk datang kedukun seperti pak Kayor  meski harus memberikan “sesaji”. Konflik yang akan terjadi dengan suaminya  misalnya dia tanggapi dengan sederhana. “Oalah Kang, bedanya banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak sampai kehati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem.
Memang akhirnya terjadi konflik. Kartiwi marah. Ia akhirnya “jajan”. Kartiwi merasa bahwa ia bisa melempiaskan dendamnya dan kedudukan menjadi satu- satu. Ia merasa harga dirinya direbut. Tetapi cerita dari cerpen ini diselesaikan bahwa kartiwi kembali pulang kepada hari keempat setelah mengamuk. Meski dengan dada remuk ketika teringat bahwa kesuksesan warungnya harus dibayar luar biasa dan mahal. “Dengan warung itu keluargaku bisa hidup Wareg, wanget,rapet”.

 
B.     PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
Penelitian ini mempermasalahkan karya sastra dari segi sosial keseharian masyarakat dan keagamaan, karena cakupan sosialnya sangat luas, maka perlu dibatsi ruang lingkupnya karena itu penelitian masalah ini dibatsi oleh masalah-masalah:
(1)   Bagaimanakah perilaku dan tindakan para tokoh dalam cerpen Warung “Penajem”
(2)   Bagaimanakah bentuk penyimpangan perbuatan tokoh menurut Islam dalam cerpen Warung “penajem”.
Dengan demikian rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk-bentuk penyimpangan yang terdapat dalam cerpen Warung “penajem” ditinjau dari latr belakang yang menyebabkan terjadinya penyimpangan tersebut.
C.     ASUMSI TUJUAN ANALISISIS
Sesuai dengan permaslahan yang dihadapi, maka dapatlah diajukan asumsi dalam penelitian, bahwa demensi sosial dan religius keagamaan yang mempercayai hal yang mistik dalam cerpen Warung “Penajem” sebagai tanda berada dalam komonikasi sastra dalam tenggangan struktur karya, pengarang, pembacaan dan kemestaan.
D.    TUJUAN ANALISIS
Berdasakan latar belakang, penelitian ini bertujuan 1) mendeskripsikan prilaku prilaku dan tindakan para tokoh dalam cerpen Warung ‘penajem” ditinjau dari mempercayai hal yang mistik, 2) serta faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan dalam cerpen Wrung “penajem”

E.     MANFAAT ANALISIS
Penelitian ini hasilnya bermanfaat untuk
1.      Peminat, pembaca dan peneliti sastra Indonesia secra umum untuk mengetahui cerpenIndonesia modern dan secra khusus cerpen Warung “Penajem”.
2.      Menjembatani pembaca pengarang, yaitu meningkatkan apresiasi.
3.      Menambah wawasan guru-guru untuk pelajaran sekolah lanjutan.


















BAB II

A.    KAJIAN ATAU LANDASAN TEORI
1.      PENDEKATAN PARAFRASTIS DALAM MENGAPRESIASI SASTRA
Pendekatan parafratis adalah strategi pemahaman kandungan makna dalam satu cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berada dengan kata-kata kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan akhir dari penggunaan pendekatan parafrastis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.
Seperti telah diketahui, kata-kata dalam cipta satsra umumnya padat dan suplimatif. Misalnya, seorang penyair yang ingin menyampaikan gagasan tentang betapa cepatnya perjalanan kehidupan serta betapa singkat kehidupan manusia itu sendiri yang sisi lain juga akan segera membahas manusia dari libatan keduniawian ini, dirinya cukup mengungkapkannya dengan jam mengerdip, tak terduga betapa lekas siang menepi, melapangkan jalan dunia. Dari contoh itu dapat diketahui bahwa kalimat atau baris dalam puisi sering mengalami elipsis atau penghilangan suatu unsur, baik berupa kata maupun berupa kelompok kata. Begitu juga1 cara penulisannya umumnya tidak sma dengan aturan atau sistem pada umumnya. Misalnya jika seorang kalimat itu seseorang harus mengawalinya dengan huruf besar dan menghakhiri dengan titik, maka dalam baris-baris puisi dalam aturan itu tidak selamnya dilaksanakan.
Prinsip dasar dari penerapan pendekatan parafrastis pada hakikatnya berangkat dari pemikiran bahwa (1) gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, (2) simbol-simbol yang berbentuk konotatif dalam suatu cipta sastra dapatdiganti dengan lambang atu bentuk lain tidak mengandung ketaksanan makna (3) kalimat-kalimat baris dalam suatu cipta sasgra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi pada bentuk dasarnya, (4) pengubahan pada suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolik dan eliptis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk mememahami kandungan makna dalam suatu bacaan, dan (5) ppengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh sesorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri.
Dari prinsip pada butir 5 itu dapat disimpulkan juga bahwa penerapan pendekatan parafrastis untuk mempermudah upaya pemahaman makna suatu bacaan, juga digunakan untuk mempertajam, memperluas dan memperlengkapi pemahaman makna yang diperoleh oleh pembaca itu sendiri. Sebab itu, dalam pelaksanaannya nanti, pendekatan parafrastis ini selain dapat dilaksanakan pada awal dilaksanakan pada awal kegiatan merapresiasi satra, juga dapat dilaksanakan setelah kegiatanapresiasi berlangsung.
2.      PENDEKATAN EMOTIF DALAM MENGAPRESIASI SASTRA
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha yang menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajiaan bentuk maupun ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu dan menarik.
Prinsip-prinsip dasar yang menlatarbelakangi adanya pendekatan emotif ini adalah pandangan bahwa cipta sastra merupakan bagian bagian dari karya seni yang hadir dihadapan masyarakat pembaca untuk menikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. Dan dengan menerapakan pendekatan emotif ini akan pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang adakah unsur-unsur keindahan cipta sastra yang akan baca ini? Bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu? Dan bagaimana wujud keindahan itu sendiri setelah digambarakan pengarangnya. Bagaimana cara menemukan keindahan itu? Serta berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan?
Selain  berhubungan dengan masalah  keindahan yang lebih lanjut akan berhubungan dengan masalah gaya bahasa seperti metafor, smile, maupun penataan setting yang mampu menghasilakan panorama yang menarik. Penikmatan keindahan itu juga dapat berhubungan dengan penyampaian cerita, peristiwa, maupun gagasan tertentu yang lucu dan menarik sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenagan oleh pembaca.
Penikmatan itu lebih ;lanjut juga dengan berhubungan masalah pola persajakan dan paduan bunyi yang lebih lanjut dan dapat mengahadiri unsur-unsur musikalitas yang merdu dan menarik. Hal yang demikian dijumpai terutama pada karya-karya puisi karena pada abad ke-18 sampai ke-19 ada kecenderungan untuk menciptakan sair atau karya fiksi seperti halnya alunan musik, misalnya sebuah puisi berbahasa Jerman dari penyair Tieck berbunyi: liebe denk in suzen Tonen atau Dennn gedanken steh’n zu fern. Penyajian keindahan dalam puisi dalam keindahan dalam puisi, selain lewat permainan bunyi sehingga dikenal adanya penyair yang auditif, dapat juga disajikan secara visual. Salah satu bait puisi  Roestam Effendi dalam percikan perenungan, misalnya, berbunyi:
                  Ditengah sunyi menderu rinduku
                  Seperti topan. Merengggutkan dahan
Mencabutkan akar,
Meranggutkan kembang kalbuku
            Untuk menemukan dan menikmati cipta satra yang mengandung kelucuan, anda tentunya juga harus memilih cipta satra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. Ragam itu misalnya ragam humor, satirik, sarkasme, maupun ragam komedi.
3.      PENDEKATAN ANALITIS DALAM MENGAPRESIASI SATRA
Sewaktu berhadapan dengansebuah cipta sastra, pembaca dapat menampilkan pertanyaan: unsur-unsur apakah yang membangun cipta sastra yang saya baca ini? Bagaimana peranan setiap unsur itu dan bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan yang lainya? Dan bagaimakah cara memahaminya? Jika pembaca berusaha mencari jawaban dari keseluruhan pertanyaan itu, pada dasarnya pembaca telah melaksanakan atau menerapkan pendekatan analitis.
Pengertian pendekatan analitis itui sendiri adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan-gagasanya, elemen instrinsik dan mekanisme  hubungan dari setiap elemen instrinsik itu sehingga mampu totalitas maknanya.
Penerapan penekatan analitis itu pada dasarnya akan menolong pembaca dalam upaya meninggalkan unsur-unsur instrinsik sastra yang secara aktual telah berada dalam suatu cipta sastra dan bukan dalam rumusan-rumusan atau definisi seperti yang terdapat dalam teori kajian sastra. selain itu pembaca juga dapat memhami bagaimana fungsi disetiap elemen cipta sastra dalam rangka membangun dalam keseluruhanya. Dengan kata lain, pendekatan analitis lewat penerapan pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari bahwa cipta sastra itu pada dasarnya diwujudkan lewat kegiatan yang serius dan terencana sehingga tertanamkanlah rasa penghargan atau sikap yang baik terhadap karya sastra.
Dalam kehadiran pendekatan analitis ini, prinsip dasar yang mendatarbelakanginya adalah anggapan bahwa (1) cipta satra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu, (2) setiap elemen dalam cipta satra memiliki fungsi tertentu dan menantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya walupun karakteristik masing-masing berbeda, (3) dari adanya ciri karakteristik setiap elemn itu, maka antara elemen yang satu dengan yang lain, pada awalnya setiap elemennya itu harus disikapi sebagai suatu kesatuan.
dalam pelaksanaannya, penerapan pendekatan aanlitis ini diawali dengan kegiatan membaca teks secra keseluruhan. Setelah itu, pembaca menampilkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik yang membangun cipta sastra yang dibacanya. Misalnya, sewaktu pembaca mengapresiasi salah satu judul cerpen, lewat judul cerpen yang dibacanya itu, setelah pembaca melaksanakan kegiatan baca terhadap keseluruhan cerpen itu secara skiming, pembaca lebih lanjut menampilkan pertanyaan-pertanyaan, misalnya bagaimana penokohannya, setting-nya, perwatakan setiap tokoh, dan pertanyaan tentang unsur instrinsik lain yang terdapat dalam cerpen itu, pembaca lebih lanjut pembaca menganalisis setiap unsur yang telah ditetapkanya.
Dari hasil analisis  setiap unsur itu, pembaca lebih lanjut berusaha memahami bagaiman mekanisme hubungannya. Lewat analisis mekanisme hubunganya. Lewat analisis mekanisme hubungan inii lebih lanjut pembaca menganalisis setiap unsur yang telah ditetapkannya.
Dalam pelaksanaanya, kegiatan analisis itu tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra. Dalam hal ini pembaca dapat membatasi diri pada analisis struktur, diksi atau gaya bahasa, atau mungkin analisis unsur kebahasaan seperti yang dilaksanakan dalam pendekatan linguistik atau text grammar. Dapat disadari, misalnya kita berhadapan dengan roman Siti Nurbaya yang begitu tebal dan melaksanakan kegiatan analisis pada seluruh elemen pendukungnya, maka hal itu akan sangat menyita waktu. Sebab itulah didalam pelaksanaannanti, sebaiknya anda memilih cipta sastra yang tidak begitu panjang, misalnya cerpen atau puisi.
Kegiatan mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analisis ini dapat dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik. Karena dalam menerapkan pendekatan itu pembaca harus berangkat dari landasan teori tertentu, bersikap objektif dan harus mewujudkan hasil analisis yang tepat, sistematis, dan diakui oleh umum. Metode kerja demikian itu dapat disamakan dengan metode kerja pada linguis dalam upayanya menerapkan metode deskriptif yang bersifat eksak dalam rangka menelaah aspek kebahasaan dalam cipta sastra. Sebab itulah dalam pelaksanaan nanti, apresiator dapat saja menggunakan bagan, tabel, maupun fomulasi atau rumus-rumus seperti yang digunakan dalam ilmu eksakta.
4.      PENDEKATAN HISTORIS DALAM MENGAPRESIASI SASTRA
Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa masa-masa terwujudnya cipta satra yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman kezaman.
Prinsip dasr yang memlatarbelakangi lahirnya pendekatan ini adalah anggapan bahwa cipta sastra bagaimanapun juga merupakan  bagian dari zamannya. Selain itu pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna dalam makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah telaah makna dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah telaah makna dalam suatu dalam pendekatan sosiosemantik sangat mengutamakan konteks, baik konteks sosio budaya, situasi tau zaman maupun konteks kehidupan pengarangnya sendiri.
Dalam telaah karya sastra Indonesia lewat pendekatan historis ini, pembaca dapat memanfaatkan buku kritik dan esay dari H.B. Jassin, Ihtisar sejarah sastra Indonesia karangan ajib rosidi, serta buku leksikon karangan  pemasuk Eneste, dan lain-lainya. Sebagai informasi kesejarahan , tambahan, pembaca dapat juga melihat pada keterangan tentang biografi pengarang yang terdapat dibagian belakang maupun esay-esay tentang kehidupan pengarang yang terdapat dalam buku kumpulan karangan maupun majalah dan koran.
5.      PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS DALAM MENGAPRESIASI SATRA
Pendekatan sosiopsikologis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya, kehidupan masyarakat maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap  lingkungan kehidupanya ataupun  zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan. Dalam  pelaksananya pendekatan ini memang sering tumpang tindih dengan pendekatan historis. Akan tetapi, selama masalah yang akan dibahas untuk setiap pendekatan itu dibatasi dengan jelas, maka ketumpang tindihan itu pasti dapat dihindari.
Contoh penerapan pendekatan sosiopsikologi itu misalnyakita membaca puisi Chairil anwar “ Diponegoro” jika dalam pendekatan historis kita dapat membahasnya lewat pendekatan tentang biografi pengarang peristiwa kesejahrahan yang terjadi pada masa itu, bagaimana sikap pengarang terhadap lingkunganya serta hubungan antara cipta satra  iti dengan zamanya.
Sehubungan dengan penerapan pendekatan sosio psikologis itu, terdapat anggapan bahwa cipta sastra merupakan kreasi manusia yang terlibat dalam kehidupan serta mampu menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya. Sebab itulah dengan mengutip pendapat Grebstein, Spardi djokodamono mengungkapkan bahwa karya satra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan.
6.      PENDEKATAN DIDAKTIS DALAM MENGAPRESIASI SASTRA
Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan tanggapan maupun sifat itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohanian pembaca.
Pendekatan didaktis ini pada dasarnya juga merupakan suatu pendekatan  yang telah beranjak jauh dari pesan tersurat yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah penerapan pendekatan didaktis dalam apresiasi sastra akan menuntut daya kemampuan intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mampan darri pembacanya.
Bagi pembaca pada umumnya, penerapan pendekatan didaktis dalam tingakatan pemilihan bahan yang sesuai dengan pengetahuan maupun tingkat kemantangannya akan terasa lebih banyak mengasikkan, hal itu terjadi karena pembaca umumnya berusaha mencari petunjuk dan keteladanan lewat teks yang dibaca. Akan tetapi pada sisi lain pada sikap  itu juga berkontras dengan sikap tidak senangnya jika harus menerima pesan, petuah atau nasihat dari orang lain yang bernada mengurui . sebab dengan itulah dengan menemukan nilai-nolai kehidupan lewat yang difikirkan nilai-nilai kehidupan lewat daya fikir kritisnya sendiri, nilai yang dapat akan lebih mengendap pada aspek kejiwaanya serta lebih menikmatkan batinnya.
Dalam pelaksanaanyan, penggunaan pendekatan didaktis  ini diawali dengan upaya  pemahaman satuan-satuan pokok  pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Satuan pokok pikiran itu pada dasarnya disarikan dari paparan gagasan pengarang, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan maupun deskripsi peristiwa dari pengarang, baik berupa atau penyairnya. Dalam penerapan pendekatan didaktis ini, sebagai pembimbing kegiatan berfikirnya, pembaca dapt berangkat dari berpola berfikir, misalnya jika malin kundang itu akhirnya mati, karena durhaka kepada ibunya, maka dalam hidupnya manusia itu harus bersikap baik kepda orang tua.
Contoh dari pendekatan didaktis dalam kegiatan mengapresiasikan puisi misalnya kita membaca puisi  Goenawan Muhammad berjudul “tahunpun turun membuka sayapnya”
                                          Tahunpun turu membuka sayapnya
                                          Keluas jauh benua-benua
                                          Dan laut membias: warna biru langit semesta
                                          Dan zaman menderas: manusia tetap setia
            Misalnya, dari puisi diatas kita dapat menentukan satuan-satuan pokok pikiran yang mmeliputi (1) waktu itu senantiasa berjalan dan teruas berganti (2) kehidupan yang indah ini senantiasa membukakan diri bangi manusia untuk menhayatinya, dan (3) meskipun zaman terus berjalan dengan cepat , manusia juga tetap setia mengisi kehidupannya. Dari ketiga pokok pikiran itu lebih lanjut pembaca dapat menampilkan berbagai macam nilai kehidupan dari padanya, misalkan









BAB III
PEMBAHSAN
PENERAPAN ATAU PENDEKATAN PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA SOSIOPSIKOLOGIS DALAM CERPEN WARUNG “PENAJEM” CERPEN AHMAD TOHARI
a.      Mengulas Tentang Pengarang
       Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 62 tahun) adalah sastrawan indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwo kerto. Namun demikian, ia pernah menduduki bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman (1975-1976). Ia pernah berkerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. mengikuti International Writing Program di lowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995). [Suting] Karyanya: Kubah (novel, 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982), Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985), Jantera Bianglala (novel, 1986), Di kaki Bukit Cibalak (novel, 1986), Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989), Bekisar Merah (novel, 1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995), Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000), Belantik (novel, 2001), Orang Orang Proyek (novel, 2002), Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004), Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006; meraih Hadiah Sastera Rancage 2007). Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan didalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Ingrisnya sedang disiapkan penerbitnya.
b.      Tokoh
            Tokoh adalah  para pelaku yang ada dalam cerita. Dalam cerita ada tokoh utama ada tokoh pembantu. Ciri-ciri tokoh utama yaitu menyita sebagian besar penceritaan terlibat hampir diseluruh peristiwa, dan menjadi pusat perhatian. Tokoh pembantu yaitu terbentuknya suatu cerita tanpa tokoh pembantu suatu cerita tidak akan tercipta.
            Tokoh merupakan salah satu yang disajikan pengarang dalam susunan ceritanya. Tokoh dalam cerita harus menanggap dirinya sebagai manusia apa adanya (luxemburg dkk :1989 :137).                    
       Jum dan Kartawi adalah lakon yang utama cerita pendek ini. Fisik: nama: Kartawi, kondisi tubuh: petani muda, hal ini bisa dibuktikan pada paragraf pertama menggambarkan bahwa Kartawi seorang petani muda (“dan petani muda itu terus mengayum cangkul”).
            Mempunyai otot, kondisi tubuh Kartawi mempunyai otot; hal ini bisadibukktikan bahwa Kartawi mempunyai otot dapat dilihat pada paragraf pertama dan kedua (“....percikan debu dan serta sentakan-sentakan otot terus runtut terjadi dibawah terik matahari kemarau yang terik”) dan pada paragraf kedua (“....memompakan udara dari paru-paru kesegenap ototnya”).
            Wajah: tampak lebih tua dan berdebu. Wajah Kartawi dikatakan tampak lebih tua dan berdebu hal ini disebabkan ia seorang pekerja keras. Hal ini bisa dibuktikan pada paragraf pertama (“....wajah Kartwi  tampak lebih tua dan berdebu”).
            Usia: usia Kartiwi tidak dicantumkan dalam cerpen “Warung Penajem”, Cuma mencantumkan bahwa kartawi seorang petani muda.
            Fisikhis: tokoh Kartawi seorang pekerja keras, hal ini bisa dibuktikan pada paragraf pertama (“....Kartawi menghujam tanah tenggalan yang sudah lama kerontang ....petani itu terus mengayunkan cangkul dibawah matahari yang terik”).
            Penyayang: tokoh Kartawi mempunyai sifat penyayang terhadap istri dan anaknya walau istrinya menghianatinya dia tetap bisa menerima istriny. Hal ini bisa dibuktikan pada paragraf keenam dan keduapuluh enam. (“....Kartiwi menurut karena suami itu memang sangat sayang kepada Jum”), dan pada paragraf keduapuluh enam (“....bagaimana juga Jum dan anak-anak sudah lama menjadi bagian hidup Kartawi sendiri”).
            Penurut; tokoh kartawi adalah seorang yang penurut kepada istrinya ia selalu mengabulkan permintaan dan cita-cita istrinya. Hal ini bisa dibuktika pada paragraf  keenam (“....menebang beberapa pohon, satu diantara pohon bacang. Mengapa bacang, adalah karena usul Jum”.).
            Penyabar; Kartawi mempunyai sifat penyabar dalam mengerjakan pekerjaanya dalam mengerjakan pekerjaannya dan dalam menanyakan sesuatu yang penting kepada istrinya, dia menunggu waktu luang istrinya dalam menyakan masalahnya tersebut. Hal ini bisa dibuktikan pada paragraf kesebelas(“....menunggu sampai Jum punya peluang untuk diajak bicara”).
            Bisa menahan diri; tokoh Kartawi bisa menahan diri dalam menghadapi suatu peristiwa yang membuatnya marah terhadap istrinya, hal ini bisa dibuktikan  pada paragraf Kartiwi meraih  gelas  hendak diremuk didalam  genggaman ....Jum mengira bahwa Kartiwi akan memukulnya  ternyata kartawi  telah bisa menahan diri  meski tubuhnya bergementaran menahan marah), dan ketika Kartawi mendengar penjelasan istrinya tambah membuat kartawi menjadi,
            Emosi; hal itu bisa dibuktikan pada paragraf  kedua puluh empat (“sebelum satu detik setelah Jum mengucapkan katanya Kartawi bamgkit dan detiknya berikutnya terdengar suara gelas hancur terbanting dilantai, Kartawi keluar setelah membanting pintu keras-keras”), semua itu wajar bagi suami tidak mampu menahankan emosinya, karena setiap orang kesabaran ada batasnya.
            Mengalami tekanan bhatin; Kartawi mengalami tekanan bathin yang sangat menyiksanya dan mengganggu pekerjaanya hal ini bisa dibuktikan pada paragraf sembilan (“....rasa sakit kembali menusuk didada Kartawi lebih keras “).
            Interaksi terhadap tokoh lain atas hubungan peran; Terhadap tokoh kartawi adalah dengan para tetangga. Hal ini bisa dibuktikan yaitu pada paragraf kedelapan (“selentingan tetangga Jum”).
       Fisik: nama; Jum, kondisi tubuh; didalam cerpen warung penajem kondisi tubuh Jum tampak segar dan kuat, hal ini bisa dibuktikan pada paragraf keempat yaitu (“....Jum yang tampak segar dan kuat”).Wajah dan usia: Masih muda dan digambarkan secara tidak langsung Jum apakah wajah Jumitu canntik  atau tidak yang pastinya Jum adalah wanita yang segar dan menarik hati pak Kayor dukun yang diberikanya penajem itu  dan juga yang sangat disayangi suaminya  Kartawi, jadi Jum bisa kita katakan  Jum adalah wanita cantik.
            Fisikhis: Mempunyai hasrat besar dan berkerja keras: didalam cerpen warung penajem ini jum yang mempunyai hasrat besar dan berkerja keras hal ini bisa dibuktikan pada pada paragraf keempat yaitu ( Jum yang punya hasrat besar punya rumah tembok dan televisi, dan sepeda motor bebek dan demi cita-cita Jum merasa tak punya jalan kecuali bekerja keras dan mau menempuh segala upaya agar warung nya maju dan laris. Tegun; disini Jum tampak tegun dalam mengembangkan usahanya hal ini bisa dibuktikan pada paragraf ketujuh yaitu (“Jum yang tampak tekun dan gembira dengan warungnya”).
            Masih mempercayai hal yang mistik; disini Jum masih mempercayai hal yang mistik yaitu kekutan tambahan, hal inibisa dibuktikan pada  paragraf kedelapan yaitu (“....Jum telah memberikan penajem kepada pak Kayor”), dan paragraf ketiga belas dibuktikan bahwa Jum mengakui memang di menemui dukun pak Kayor agar warungnya tetap laris (“ya kang, pekan lalu saya memang pegir menemui pak Kayor”). Dan Jum juga percayai hal yang mistik berupa pelaris, yaitu warungnya bisa menjadi laris, yaitu warungya bisa menjadi laris dengan mempercayai mitos dari pepohonan buah-buahan. Untuk membuktikan mitos tersebut didalam Cerpen Warung penajem yaitu terdapat pada paragraf keenam yaitu (“....kata Jum telah mengaku tahu ngilmu pewarungan harus ada kayu dari pohin buah-buahan dalam bangunan warung”). Lugu dan polos tentang pengakuanya terhadap suami tentang tindaknya
dibuktikan pada paragraf kedelapan belas (“....yang saya berikan itu kepada pak kayor itu bukan bukan begitu-begitu yang sesungguhnya saya Cuma main-main, Cuma pura”). Dan bisa pula dibuktikan pada paragraf duapuluh tiga yaitu (“Oalah kang, bedanya banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak sampai kehati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem agar warung kita laris tidak lebih, jadi kamu tidak lebih, jadi kamu tidak kehilangan apa-apa kang. Semuanya utuh”). Didalam tokoh Jum interaksi dengan tokoh lain  atau tokoh pembantu yaitu dengan pak Kayor.
c.    Latar
            Istilah latar bukan tidak hanya diartikan sebagai latar giografisnya saja tetapi juga faktor-faktor sosial dan historis, waktudan tempat terjadinya, peristiwa dalam plot. Disamping itu unsur-unsur latar meliputi: tempat yang secara giografis aktual, meliputi topografi, pemandangan detail-detail dalam ruangan. Pekerjaan atau eksetensi keseharian tokoh. Waktu dalam gaya mengambil tempat misalnya priode historis, musim, masa, tahunan. Demikianlah hal-hal yang dipedomani  dari latar salah satu pembangunan cerita.

            Tempat: latar tempat cerita cerpen ini adalah; dilahan garapan bisa dibuktikan pada paragraf satu dan dua, (“....debu tanah kapur memercik....dan petani muda itu terus mengayuni cangkul”), dan paragraf kedua (“ketika lanjur garapan mencapai batas tanahnya....dataran tanah berkapur”).
            Dibawah pohon johar; bisa dibuktikan pada paragraf empat dan sembilan, paragraf keempat yaitu (“Kartawi berdiri dibawah keteduhan pohon johar yang masih mempertahankan daun-daun terakhir”), dan paragraf sembilan (“masih berdiri dibawah pohon  johar”).
            Dijalan; dibuktikan pada paragraf kesepuluh (“Kartawi melangkah mengikuti jalan tikus yang membelah tenggalan”). Dirumah; pada paragraf kesebelas (“ketika sampai dirumah Kartawi melihat Jum yang sedang melayani beberapa pembeli”). Diwarung; terdapat pada paragraf ketujuh (“....warung Jum tampak hidup”). Dihalaman rumah; dapat dibuktikan terdapat pada paragraf dua puluh enam yaitu (“....namun sampai dihalaman Kartawi termanggu”).
            Waktu: Siang Hari; waktu disini terjadi siang hari ketika Kartawi bekerja dilahan garapannya, hal ini bisa dibuktikan pada paragraf pertama yaitu (“....matahari kemarau yang terik”), malam hari; waktu disini malam hari bisa kita lihat ketika Kartawi lagi membahas tentang penajem dengan istrinya Jum. Hal ini bisa dibuktikan pada paragraf dua belas yaitu (“maka pertanyaan tentang benar tidaknya cas-cis-cus para tetangga itu baru baru bisa diajukan kartawi jika malam telah larut”.)
            Suasana: Membaca cerpen Ahmad Tohari, kita dihadapksn pada realitas sosial keseharian masyarakat tradisional yang masih mempercayai mistik. Kekutan dukun menjadi kekuatan tambahan setiaruntuk menjalani usaha atau meraih kesuksesan.
            Cerpen ini mendeskripsikan secara apik suasana sebuah kampung, tentang bagaimana penduduknya menjalani kehidupan. Layaknya orang kampung biasa, cita-cita mereka sederhana. Buka warung membangun rumah tembok lalu membeli motor bebek , hal ini dibuktikan (“mungkin Jum berpendapat, hidup baginya bukan berarti lain kecuali warung dengan warung itu Jum terbukti mampu mengembangkan ekonomi keluarga”), hal ini bisa dibuktikan pada paragraf (“....mungkin Jum berpendapat, hidupnya tidak bisa berati kecuali membuka warung”.), suasan acerita pendek ini juga terdapat pada mungkin pada paragraf  pertama yaitu (“....percikan debu dan sentakan-sentakan otot terus terjadi dibawah kemarau yang yang terik”.).
            Suasana cerita pendek ini bisa dikatakan gembira dan bisa dikatakan menyedihkan hal ini terdapat antara kartawi dengan Jum istrinya, Kartawi tampak tekanan bathin yang menyedihkan sedangkan Jum tambak gembira hal ini bisa dibuktikan pada paragraf ketiga  bahwa Kartawi  merasa bathinya tertekan yaitu (“....tiba-tiba Kartawi merasa ada tekanan menusuk dadanya”.), dan suasana gembira terdapat pada sosok Jum yang melayani pembeli diwarungnya hal ini bisa dibuktikan yaitu pad paragraf ketujuh (“Jum tampak tegun dan gembira dengan warungnya”.).
            Cerita dan membantu tercuatnya yaitu; keberhasilan cerpen ini menggambarkan realitas sosial masyarakat kecil diperkampungan yang kadang irasional dalam menjalani kehidupan sosial ekonomi, sangat terkait dengan kelokalan cerita ini. Hal ini terlihat istilah “Penajem” yang sangat jawa.

















BAB IV
PENUTUP
A.    SIMPULAN
                 karya sastra merupakan pengungkapan pengarang dan merupakan penghayatan terhadap manusia dan kemanusian. Persoalan-persoalan manusia dan kemanusian  tersebut disampaikan dengan maksud untuk mengokohkan keagamaan agar tidak percaya kepada hal-hal yang mistik yang menyimpang dari ajran agama islam.
                 Berdasarkan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerpen Warung “Penjem”  ini menunjukkan bahwatokoh-tokoh utama banyak menyimpang dari norma keagamaan, dan norma kesusilaan.
B.     SARAN
                 Pesan yang ingin disampaikan pengarang adalah dalam Cerpen Warung Penajem adalah janganlah percaya pada hal yang bersifat mistik, contoh’’Penajem” kita harus berfikir sebelum bertindak. Segala sesuatu tindakan istri harus diizinkan suami terdahulu. Selesaikanlah masalah dengan kepala dingin.


KEPUSTAKAAN
Tohari, Ahmad.1994. Cerpen Wraung “Penajem” Kompas 13 November.
Materi Pendekatan dalam Apresiasi Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar